Pernahkah Anda merasa kedinginan hebat saat mendaki, tapi mengabaikannya karena merasa "Ah, ini kan Indonesia, bukan Everest"?
Banyak pendaki di iklim tropis terjebak dalam mitos bahwa suhu di gunung Indonesia tidak mematikan. Faktanya, kombinasi hujan, angin kencang, dan pakaian basah di gunung seperti Slamet, Lawu, atau Rinjani bisa menurunkan suhu tubuh secara drastis dalam waktu singkat.
Hipotermia terjadi saat suhu tubuh turun di bawah 35°C. Saat ini terjadi, organ vital seperti jantung dan otak mulai melambat. Sayangnya, gejalanya sering disalahartikan sebagai "hanya kelelahan biasa" atau "masuk angin".
Jangan sampai terlambat. Berikut adalah 5 tanda awal hipotermia yang wajib diketahui setiap pendaki, dari pemula hingga profesional.
1. Menggigil Tak Terkendali (The Uncontrollable Shivers)
Menggigil adalah respon alami tubuh untuk menciptakan panas. Namun, ada perbedaan besar antara "dingin biasa" dan tanda bahaya.
Jika teman mendaki Anda menggigil terus-menerus dan tidak berhenti bahkan setelah beristirahat atau menambah lapisan jaket, ini adalah red flag utama. Menurut CDC, ketika menggigil menjadi konstan, itu tandanya tubuh sedang berjuang keras mempertahankan suhu inti.
💡 Tips: Jika menggigil tidak hilang dalam 15 menit istirahat, segera berhenti. Jangan paksakan summit attack. Ganti baju kering dan cari perlindungan.
2. "Fumbles": Tangan Kaku dan Sulit Koordinasi
Pernah melihat teman kesulitan mengancingkan jaket atau sering menjatuhkan barang (seperti carabiner atau botol minum)? Jangan dimarahi atau ditertawarkan.
Hilangnya koordinasi motorik halus adalah tanda bahwa aliran darah mulai ditarik dari tangan dan kaki menuju organ vital. Tangan menjadi kaku, gerakan menjadi lambat, dan kaki sering tersandung. Kondisi ini sering disebut sebagai "The Fumbles".
"Kaki yang tidak stabil bukan hanya karena lelah, tapi sinyal saraf yang mulai melambat akibat dingin." — Mayo Clinic
3. "Mumbles": Bicara Melantur atau Cadel
Gejala ini sering kali menipu. Pendaki yang terkena hipotermia tahap menengah mungkin mulai berbicara dengan tidak jelas (slurred speech), bergumam, atau meracau hal-hal yang tidak nyambung.
Sering kali rekan pendakian mengira ini hanya efek mengantuk atau lapar. Padahal, ini adalah indikasi bahwa suplai oksigen dan panas ke otak mulai berkurang. Jika teman Anda mulai sulit diajak komunikasi dua arah, waspadalah!
4. "Grumbles": Perubahan Emosi dan Kebingungan
Hipotermia menyerang mental, bukan hanya fisik. Korban sering kali menunjukkan perubahan perilaku drastis:
- Tiba-tiba menjadi pendiam atau apatis.
- Marah-marah tanpa alasan (grumpy).
- Menolak bantuan atau bersikeras "Saya baik-baik saja" padahal kondisinya jelas menurun.
5. Kantuk Ekstrem yang Mematikan
"Aku mau tidur sebentar di sini..."
Kalimat ini adalah salah satu tanda paling berbahaya di gunung saat cuaca buruk. Rasa kantuk yang luar biasa dan keinginan untuk berbaring di tempat terbuka adalah tanda sistem saraf pusat mulai shut down.
Jika dibiarkan tertidur dalam kondisi basah dan dingin, risiko kematian meningkat drastis. Jangan biarkan korban tidur! Ajak bicara terus-menerus sambil melakukan pertolongan pertama.
Langkah Penyelamatan Darurat (Do's & Don'ts)
Jika Anda melihat tanda-tanda di atas, lakukan langkah berikut berdasarkan panduan Alodokter dan standar medis internasional:
- Ganti Pakaian Basah: Ini prioritas nomor satu. Air membuang panas tubuh 25x lebih cepat dari udara.
- Isolasi dari Tanah: Jangan biarkan korban duduk langsung di tanah dingin. Gunakan matras atau alumunium foil blanket.
- Skin-to-Skin: Jika sleeping bag tidak cukup, pelukan antar kulit (di dalam sleeping bag) adalah cara transfer panas paling efektif.
- Minuman Hangat Manis: Berikan teh manis atau jahe hangat. HINDARI Kopi dan Alkohol karena dapat memperparah kondisi jantung.
- Panggil Bantuan: Jangan ragu menghubungi Pos SAR atau Ranger jika gejala tidak membaik.
Refleksi: Solidaritas Adalah Kunci
Hipotermia tidak pandang bulu. Data dari GoodStats menunjukkan bahwa angka kecelakaan di gunung Indonesia masih tinggi, dan sebagian besar disebabkan oleh faktor alam serta kesehatan.
Pelajaran terpentingnya: Jangan pernah meninggalkan teman sendirian. Saling memantau kondisi ("Check-in" setiap 30 menit) adalah gear keselamatan terbaik yang gratis tapi tak ternilai harganya.
Persiapkan fisik, bawa perlengkapan safety (seperti thermal blanket yang harganya murah tapi krusial), dan pahami batasan diri. Puncak hanyalah bonus, pulang dengan selamat adalah tujuan utama.
Apakah artikel ini bermanfaat? Bagikan kepada teman pendakianmu agar kita bisa saling menjaga. Jika Anda memiliki pengalaman serupa atau tips tambahan, tulis di kolom komentar ya!
Disclaimer: Artikel ini tujuan edukasi dan tidak menggantikan saran medis profesional atau pelatihan SAR resmi.

Komentar
Posting Komentar