Langsung ke konten utama

Roasting Itu Seni Mengkritik atau Cuma Body Shaming Berkedok Komedi?

Gambar oleh Jametlene Reskp, via Unsplash: https://unsplash.com/photos/a-couple-of-women-standing-next-to-each-other-O3JQgIz01OA

Hai, guys! Kamu pasti sering dengar istilah roasting di media sosial atau di panggung stand-up comedy, kan? Kelihatannya seru, ya, melihat seorang komika "membakar" seorang selebriti atau tokoh publik dengan lelucon pedas. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran, di mana ya, batas tipis antara roasting yang cerdas dengan bullying yang menyakitkan?

Kadang, apa yang dimaksudkan sebagai kritik lucu malah jadi serangan pribadi yang bikin targetnya down. Nah, biar kita semua makin paham, yuk kita bedah tuntas soal roasting: kapan jadi kritik yang membangun, dan kapan jadi serangan yang merusak.

Apa Sih Sebenarnya Roasting Itu?

Secara sederhana, roasting adalah seni menyampaikan kritik lewat humor. Ini bukan sekadar mengejek, lho. Ada "aturan mainnya". Tradisi ini sudah ada sejak lama di Amerika, lewat acara legendaris seperti Comedy Central Roasts, di mana para selebriti secara sukarela duduk di "kursi panas" untuk di-roasting habis-habisan oleh teman-temannya.

Di Indonesia sendiri, roasting mulai naik daun berkat para komika stand-up comedy. Mereka menunjukkan bahwa kritik bisa disampaikan dengan tawa, bukan dengan amarah. Intinya, roasting yang sehat itu punya tujuan, yaitu menghibur sekaligus memberi masukan, bukan untuk mempermalukan.

Garis Merah: Kapan Roasting Jadi Bullying?

Nah, ini bagian paling penting. Nggak semua lelucon yang "membakar" itu bisa disebut roasting. Ada garis merah yang sangat jelas yang memisahkannya dari bullying.

✅ Ini Ciri-Ciri Roasting yang Sehat:

  • Ada Izin (Consent): Ini kuncinya! Orang yang di-roasting sudah tahu dan setuju untuk dijadikan bahan lelucon. Nggak ada unsur paksaan atau jebakan.
  • Fokus pada Perilaku, Bukan Fisik: Roasting yang elegan menyasar keputusan, kebiasaan unik, atau karya seseorang. Bukan menyerang hal-hal yang nggak bisa diubah seperti fisik, ras, atau latar belakang keluarga.
  • Konteksnya Jelas Hiburan: Dilakukan di panggung, dalam konten video yang jelas-jelas berlabel komedi, bukan di kolom komentar dengan niat menjatuhkan.
  • Ada Keseimbangan: Komika yang baik biasanya akan menyeimbangkan lelucon pedas dengan pujian tulus, sehingga suasana tetap positif.

⚠️ Hati-Hati, Ini Sudah Termasuk Serangan Pribadi (Bullying):

  • Tanpa Persetujuan: Tiba-tiba dijadikan bahan ejekan di depan umum tanpa ada kesepakatan. Rasanya pasti nggak enak banget, kan?
  • Menyerang Topik Sensitif: Ketika lelucon sudah menyentuh isu SARA, disabilitas, tragedi pribadi, atau kesehatan mental, itu sudah kelewatan batas.
  • Niatnya Merendahkan: Tujuan utamanya bukan lagi menghibur, tapi sengaja menyakiti dan mempermalukan target.
  • Dilakukan Terus-menerus: Ejekan dilontarkan berulang kali, bahkan setelah target menunjukkan rasa tidak nyaman.
Sumber: saya sendiri

Tanda-tanda Roasting Sudah "Kebablasan"

Sebagai penonton atau content creator, kita harus peka. Kapan sebuah roasting sudah keluar jalur?

  1. Reaksi Target Berubah: Orang yang di-roasting tidak lagi tertawa. Wajahnya mulai tegang, canggung, atau bahkan menunjukkan emosi sedih.
  2. Topik Menjadi Gelap: Lelucon mulai menyeret isu pelecehan, penyakit serius, atau SARA.
  3. Tidak Tahu Kapan Harus Berhenti: Target sudah memberi sinyal untuk berhenti, tapi si roaster terus melaju.
  4. Penonton Ikut Merasa Nggak Nyaman: Suasana yang tadinya penuh tawa berubah jadi hening dan canggung.
  5. Memicu Cyberbullying Massal: Komentar di media sosial dipenuhi oleh orang-orang yang ikut mengejek tanpa memahami konteksnya.

Kalau kamu melihat tanda-tanda ini, itu bukan lagi komedi. Itu sudah menjadi perundungan.

Etika Roasting buat Content Creator (dan Kita Semua)

Mau coba bikin konten roasting? Atau sekadar bercanda dengan teman? Pegang etika ini baik-baik agar tetap asyik dan nggak menyakiti.

  • Persetujuan Adalah Harga Mati: Selalu, selalu, dan selalu minta izin dulu. Pastikan teman atau targetmu benar-benar nyaman.
  • Riset Dulu, Jangan Asal Tembak: Kenali batas targetmu. Hindari topik yang kamu tahu adalah "ranjau darat" baginya.
  • Jadikan Lucu, Bukan Jahat: Gunakan hiperbola atau analogi cerdas. Tujuannya adalah membuat orang berpikir, "Wah, lucu juga ya idenya," bukan, "Kok jahat banget omongannya."
  • Selingi dengan Pujian: Setelah "membakar", berikan "air sejuk" berupa apresiasi. Contoh: "Gayamu di foto emang kaku banget kayak kanebo kering, tapi salut lho, kamu konsisten banget upload karyamu!"
  • Belajar Membaca Situasi: Kalau suasana mulai nggak enak, segera berhenti dan alihkan topik. Minta maaf jika perlu.
  • Gunakan Disclaimer: Di media sosial, kasih tagar seperti #roasting, #komedi, atau #cumabercanda untuk memberi konteks kepada audiens.
  • Pakai Empati: Coba bayangkan kamu ada di posisinya. Kalau kamu sendiri bakal tersinggung, jangan pernah ucapkan itu ke orang lain.

Kesimpulan: Jadilah Roaster yang Cerdas dan Berempati

Roasting itu seperti pisau tajam: di tangan koki andal, bisa menghasilkan masakan lezat. Tapi di tangan yang salah, bisa melukai.

Garis pemisah antara kritik yang lucu dan bullying yang kejam memang tipis, tapi sangat nyata. Kuncinya ada pada persetujuan, empati, dan konteks.

Bagi kita para pengguna media sosial dan content creator, penting untuk menjadikan roasting sebagai alat untuk kritik sosial yang cerdas dan hiburan yang sehat. Bukan sebagai senjata untuk menjatuhkan orang lain demi engagement.

Yuk, kita ciptakan ruang digital yang lebih positif, di mana tawa tidak meninggalkan luka.

Gimana menurutmu? Pernah punya pengalaman di-roasting atau me-roasting orang? Share ceritamu di kolom komentar, ya!

Sumber:

  1. https://www.liputan6.com/feeds/read/5783637/seputar-penjelasan-tentang-roasting-seni-mengkritik-dengan-humor 
  2. https://www.liputan6.com/feeds/read/5901673/arti-roasting-fenomena-komedi-yang-menggelitik-di-kalangan-anak-muda
  3. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/45260/Kritik%20Sosial%20Pada%20Pertunukan%20Stand%20Up%20Comedy%20Perspektif%20Hukum%20Pidana%20dan%20hukum%20Islam%20%281%29.pdf?sequence=1&
  4. https://globalnews.ca/news/3707813/roasting-is-a-new-cyberbullying-trend-and-it-has-experts-worried/

Dukung Konten Bermanfaat, Belanja di Shopee!

Suka artikel ini? Dapatkan buku tentang etika digital atau produk penunjang kontenmu di Shopee. Klik link di bawah ini untuk belanja dan dukung kami terus menyajikan informasi bermanfaat:








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pewarna Alami dari Tumbuhan: Cara Mendapatkan Warna Pekat Tanpa Zat Kimia Tambahan

Halo, Sahabat Kreatif! Pernahkah kamu merasa bosan dengan warna-warna pabrikan yang itu-itu saja? Atau mungkin khawatir dengan kandungan kimia di dalamnya? Kalau iya, kamu datang ke tempat yang tepat! Sekarang ini, tren kembali ke alam lagi naik daun, termasuk dalam urusan warna. Pewarna alami dari tumbuhan bukan cuma soal warna yang cantik dan lembut, lho. Ini adalah cara kita untuk lebih ramah lingkungan, lebih sehat, dan pastinya lebih seru karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah! Lupakan pewarna sintetis yang kadang bikin alergi. Pewarna dari kebun kita sendiri ini aman, bahkan untuk si kecil, dan mudah terurai kembali ke tanah. Yuk, kita selami dunia magis pewarna alami dan cari tahu cara mendapatkan warna yang pekat dan tahan lama tanpa bahan kimia aneh-aneh! Kenapa Sih Harus Coba Pewarna Alami? Ini Alasannya! Sebelum kita masuk ke cara membuatnya, penting untuk tahu kenapa pewarna alami ini jadi pilihan yang cerdas: Lebih Sehat Untuk Kita: Pewarna alami bebas dari bahan kim...

7 Perbedaan Minyak Goreng Padat vs Cair: Rahasia Gorengan Renyah & Tetap Sehat!

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ayam goreng di restoran cepat saji bisa begitu renyah dan kering, sementara gorengan buatan rumah sering kali berminyak dan cepat lembek? Jawabannya bukan hanya pada tepung bumbu, tapi pada jenis minyak yang digunakan . Di dapur Indonesia, kita sering terjebak dilema: pilih minyak goreng cair yang biasa ada di warung, atau beralih ke minyak padat (frying shortening) yang jadi andalan koki profesional? Artikel ini akan mengupas tuntas 7 perbedaan krusial di antara keduanya agar Anda tidak salah pilih—baik demi rasa yang lezat maupun kesehatan keluarga. 1. Komposisi Lemak: Jantung vs. Tekstur Perbedaan paling mendasar ada pada kandungan kimianya. Jangan pusing dulu, ini penjelasannya secara sederhana: Minyak Cair (Sawit, Kanola, Jagung): Didominasi oleh lemak tak jenuh . Menurut  Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan , jenis lemak ini membantu mengontrol kolesterol jahat (LDL) jika digunakan dengan bijak. Minyak Padat (Shortening) : Dibuat mela...

7 Strategi Cerdas Orangtua di Era AI: Ubah Anak dari Konsumen Pasif Jadi Kreator Kritis

Pernahkah Anda melihat pemandangan ini di rumah? Si Kecil sedang mengerjakan PR, tapi di sebelahnya ada tablet yang menyala. Alih-alih berpikir, ia bertanya pada asisten suara, "Oke Google, apa jawaban nomor 5?" Setelah itu, algoritma menyodorkan video rekomendasi, dan voila , 30 menit berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan. Ayah dan Bunda tidak sendirian. Di era kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) ini, batas antara belajar dan menjadi "konsumen pasif" semakin tipis. Kita tidak bisa menolak teknologi, tapi membiarkan anak diasuh oleh algoritma juga bukan pilihan bijak. Berdasarkan pandangan para pakar psikologi anak dan tren digital parenting terkini, berikut adalah 7 strategi praktis agar anak kita tidak hanya jadi penonton, tapi tumbuh menjadi pemikir yang kritis dan mandiri. Mengapa Kita Harus Peduli Sekarang? AI memang canggih untuk membantu belajar, tapi Dr. Sophie Pierce, seorang psikolog anak, mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan emp...