Langsung ke konten utama

3 Alasan Gen Z Sering 'Boncos' di Kripto & Cara Menghindarinya (Jangan Cuma Ikut FOMO!)

Koin fisik Bitcoin berwarna emas diletakkan di atas layar yang menampilkan grafik candlestick perdagangan kripto yang sedang naik.

Pernah lihat konten "Anak muda sukses di usia 20 tahun berkat Kripto" lewat di timeline kamu?

Mobil mewah, laptop di rooftop Bali, dan grafik hijau yang menjulang. Terlihat menggoda, bukan? Namun, di balik kemewahan itu, ada realitas yang jarang terekspos: ribuan investor pemula yang diam-diam menangis karena portofolionya merah alias "boncos".

Fenomena ini nyata. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor kripto di Indonesia sudah tembus 19,56 juta orang per November 2025. Angka yang fantastis! (Antara News)

Tapi pertanyaannya, apakah mereka semua untung? Atau justru terjebak janji main influencer? Mari kita bedah kenapa banyak Gen Z terjebak FOMO dan bagaimana agar kamu tidak menjadi korban selanjutnya.

1. FOMO: Musuh Utama Dompetmu

Fear of Missing Out atau takut ketinggalan tren adalah alasan nomor satu kenapa banyak orang membeli aset di pucuk harga.

Algoritma media sosial memperparah ini. Kamu hanya disuguhi cerita sukses (gains), sementara cerita kerugian (loss) tenggelam. Akibatnya, banyak yang membeli koin bukan karena fundamentalnya bagus, tapi karena "takut dibilang nggak gaul" atau ingin cepat kaya.

Tips: Investasi itu maraton, bukan lari sprint. Kalau kamu beli karena panik teman sudah beli, itu tanda kamu sedang gambling, bukan investasi.

2. Terbuai Janji Manis Influencer

Belakangan ini ramai kasus influencer finansial—seperti kasus viral yang menyeret nama besar di komunitas kripto—yang dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan. (Reddit)

Modusnya sering kali mirip:

  • Memamerkan hasil profit ribuan persen.
  • Jarang membahas risiko atau kemungkinan rugi.
  • Mengajak masuk ke grup eksklusif berbayar.

Banyak Gen Z yang menelan mentah-mentah rekomendasi ini tanpa Do Your Own Research (DYOR). Ingat, influencer dibayar untuk promosi, tapi kerugianmu ditanggung sendiri.

3. Minim Literasi, Kelebihan Ego

Menurut pakar perencana keuangan, sekitar 30-40% korban investasi bodong adalah Milenial dan Gen Z. (Antara News)

Kenapa? Karena sering kali ego ("saya pasti bisa untung cepat") lebih besar daripada kemauan belajar. Banyak yang terjun tanpa paham:

  • Apa proyek di balik koin tersebut?
  • Bagaimana manajemen risikonya?
  • Kapan harus Cut Loss?

Riset membuktikan bahwa pemahaman risiko adalah kunci utama untuk menghindari penipuan investasi. (Eduvest)

✅ Solusi: Cara Cuan Tanpa Jantung Berdebar

Investasi kripto itu sah dan berpotensi menguntungkan, asal dilakukan dengan benar. Berikut strategi agar kamu tetap slay tanpa boncos:

1. Gunakan "Uang Dingin"

Jangan pakai uang SPP, uang sewa kost, apalagi uang pinjol untuk beli kripto! Gunakan uang yang jika hilang, gaya hidupmu tidak terganggu.

2. Diversifikasi Aset

Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Sebar danamu di berbagai instrumen: saham, reksadana, emas, dan sebagian kecil di kripto.

3. Cek Legalitas

Pastikan platform yang kamu gunakan terdaftar di Bappebti. Regulasi OJK kini semakin ketat untuk melindungi konsumen, jadi manfaatkan payung hukum ini. (Liputan6)

4. Edukasi Diri Sendiri

Berhenti mengandalkan "sinyal" dari grup Telegram. Mulai baca whitepaper proyek, pelajari analisis teknikal dasar, dan ikuti berita dari sumber kredibel.

💭 Kesimpulan

Menjadi kaya lewat jalur instan itu mitos. Kripto adalah instrumen investasi high risk, high return.

Jangan biarkan FOMO mengendalikan logikamu. Jadilah investor cerdas yang mengambil keputusan berdasarkan data, bukan karena story Instagram teman.

Punya pengalaman unik atau pahit soal investasi kripto?

Bagikan ceritamu di kolom komentar! Diskusi kita mungkin bisa menyelamatkan teman lain dari kerugian.

Suka dengan artikel edukasi finansial seperti ini? Dukung kami untuk terus berkarya dengan berbagi artikel ini ke teman-temanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pewarna Alami dari Tumbuhan: Cara Mendapatkan Warna Pekat Tanpa Zat Kimia Tambahan

Halo, Sahabat Kreatif! Pernahkah kamu merasa bosan dengan warna-warna pabrikan yang itu-itu saja? Atau mungkin khawatir dengan kandungan kimia di dalamnya? Kalau iya, kamu datang ke tempat yang tepat! Sekarang ini, tren kembali ke alam lagi naik daun, termasuk dalam urusan warna. Pewarna alami dari tumbuhan bukan cuma soal warna yang cantik dan lembut, lho. Ini adalah cara kita untuk lebih ramah lingkungan, lebih sehat, dan pastinya lebih seru karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah! Lupakan pewarna sintetis yang kadang bikin alergi. Pewarna dari kebun kita sendiri ini aman, bahkan untuk si kecil, dan mudah terurai kembali ke tanah. Yuk, kita selami dunia magis pewarna alami dan cari tahu cara mendapatkan warna yang pekat dan tahan lama tanpa bahan kimia aneh-aneh! Kenapa Sih Harus Coba Pewarna Alami? Ini Alasannya! Sebelum kita masuk ke cara membuatnya, penting untuk tahu kenapa pewarna alami ini jadi pilihan yang cerdas: Lebih Sehat Untuk Kita: Pewarna alami bebas dari bahan kim...

7 Perbedaan Minyak Goreng Padat vs Cair: Rahasia Gorengan Renyah & Tetap Sehat!

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ayam goreng di restoran cepat saji bisa begitu renyah dan kering, sementara gorengan buatan rumah sering kali berminyak dan cepat lembek? Jawabannya bukan hanya pada tepung bumbu, tapi pada jenis minyak yang digunakan . Di dapur Indonesia, kita sering terjebak dilema: pilih minyak goreng cair yang biasa ada di warung, atau beralih ke minyak padat (frying shortening) yang jadi andalan koki profesional? Artikel ini akan mengupas tuntas 7 perbedaan krusial di antara keduanya agar Anda tidak salah pilih—baik demi rasa yang lezat maupun kesehatan keluarga. 1. Komposisi Lemak: Jantung vs. Tekstur Perbedaan paling mendasar ada pada kandungan kimianya. Jangan pusing dulu, ini penjelasannya secara sederhana: Minyak Cair (Sawit, Kanola, Jagung): Didominasi oleh lemak tak jenuh . Menurut  Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan , jenis lemak ini membantu mengontrol kolesterol jahat (LDL) jika digunakan dengan bijak. Minyak Padat (Shortening) : Dibuat mela...

7 Strategi Cerdas Orangtua di Era AI: Ubah Anak dari Konsumen Pasif Jadi Kreator Kritis

Pernahkah Anda melihat pemandangan ini di rumah? Si Kecil sedang mengerjakan PR, tapi di sebelahnya ada tablet yang menyala. Alih-alih berpikir, ia bertanya pada asisten suara, "Oke Google, apa jawaban nomor 5?" Setelah itu, algoritma menyodorkan video rekomendasi, dan voila , 30 menit berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan. Ayah dan Bunda tidak sendirian. Di era kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) ini, batas antara belajar dan menjadi "konsumen pasif" semakin tipis. Kita tidak bisa menolak teknologi, tapi membiarkan anak diasuh oleh algoritma juga bukan pilihan bijak. Berdasarkan pandangan para pakar psikologi anak dan tren digital parenting terkini, berikut adalah 7 strategi praktis agar anak kita tidak hanya jadi penonton, tapi tumbuh menjadi pemikir yang kritis dan mandiri. Mengapa Kita Harus Peduli Sekarang? AI memang canggih untuk membantu belajar, tapi Dr. Sophie Pierce, seorang psikolog anak, mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan emp...