Langsung ke konten utama

3 Alasan Ilmiah Kenapa Pengawal Kerajaan Pingsan (Dan Itu Bukan Mitos Berdiri 4 Hari!)

https://pixabay.com/photos/windsor-castle-windsor-royal-guard-4223726/

Pasti kamu pernah lihat video viral seorang penjaga kerajaan Inggris yang tiba-tiba jatuh pingsan saat bertugas. Komentar di media sosial pun langsung ramai, sering kali dengan narasi dramatis seperti, "Mereka dilatih berdiri 4 hari tanpa henti!"

Kenyataannya, cerita itu lebih banyak mitosnya daripada fakta.

Masalah utamanya adalah informasi yang simpang siur membuat kita salah kaprah. Nah, artikel ini hadir untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Kita akan bedah tiga fakta sebenarnya di balik fenomena ini, berdasarkan protokol militer dan penjelasan medis yang kredibel. Yuk kita cari tahu bersama!

1. Mitos vs. Fakta: Aturan Jaga yang Sebenarnya

Pertama, lupakan klaim bahwa mereka berdiri berhari-hari tanpa istirahat. Itu hiperbola.

Faktanya, para penjaga kerajaan (King's/Queen's Guard) bekerja dengan sistem shift yang sangat teratur. Menurut laporan dari KOMPAS.com dan sumber lainnya, seorang penjaga biasanya bertugas selama dua jam di satu pos, lalu beristirahat selama empat jam. Selama berjaga pun, mereka tidak diam total; mereka melakukan gerakan-gerakan kecil secara berkala untuk menjaga sirkulasi darah.

Jadi, tidak ada cerita "berdiri nonstop" seperti yang diviralkan. Jika ada insiden pingsan, tim medis sudah siaga di lokasi untuk segera memberikan pertolongan.

Manfaat untukmu: Kamu jadi tahu cara membedakan informasi viral yang dilebih-lebihkan dengan fakta operasional yang sebenarnya.

2. Penjelasan Medis: Kenapa Tubuh Bisa Tiba-Tiba 'Shutdown'?

Jika bukan karena kelelahan ekstrem, lalu kenapa mereka bisa pingsan? Jawabannya ada di penjelasan medis yang disebut Vasovagal Syncope.

Menurut Mayo Clinic, ini adalah kondisi di mana tubuh bereaksi berlebihan terhadap pemicu tertentu, yang menyebabkan detak jantung dan tekanan darah anjlok secara drastis. Akibatnya, aliran darah ke otak berkurang dan terjadilah pingsan.

Pemicu utamanya dalam kasus ini adalah:

  • Berdiri terlalu lama dalam posisi tegap.
  • Mengunci lutut, yang menghambat aliran darah kembali ke jantung.
  • Dehidrasi atau cuaca panas saat upacara berlangsung.

Sederhananya, darah "terjebak" di bagian bawah tubuh, otak kekurangan oksigen sejenak, dan tubuh pun secara otomatis "mematikan diri" untuk melindungi organ vital.

Manfaat untukmu: Pengetahuan ini berguna di kehidupan sehari-hari. Jika kamu harus berdiri lama saat upacara atau antre, ingatlah untuk tidak mengunci lutut dan gerakkan kakimu sesekali untuk membantu sirkulasi darah.

https://www.freepik.com/free-vector/blood-clot-human-legs_7037341.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=4c83ff2b-8471-4e45-8e40-e5985fb409e6&query=blood+circulation+leg

3. 'Faint to Attention': Protokol Jatuh yang Ternyata Terlatih

Ini mungkin fakta yang paling mengejutkan. Para penjaga ini ternyata dilatih tentang cara pingsan yang benar.

Istilah populernya adalah "faint to attention". Ini bukanlah latihan untuk sengaja pingsan, melainkan sebuah protokol darurat. Tujuannya adalah jika pingsan tidak bisa dihindari, mereka harus jatuh ke depan dengan posisi tegap dan terkontrol.

Mengapa? Menurut laporan HELLO! Magazine, cara ini dilakukan untuk:

  • Meminimalkan gangguan visual pada upacara yang sakral.
  • Melindungi senjata agar tidak jatuh sembarangan.
  • Menghindari cedera parah atau menimpa orang lain.

Ini adalah bentuk disiplin ekstrem yang menunjukkan bahwa bahkan saat kehilangan kesadaran pun, tugas dan kehormatan tetap menjadi prioritas.

Manfaat untukmu: Kamu mendapatkan wawasan unik tentang tingkat disiplin dan dedikasi di balik sebuah tradisi militer yang ikonik.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Kejadian pingsan penjaga kerajaan bukanlah soal ketahanan super atau kelemahan, melainkan titik temu antara tradisi, disiplin, dan batas biologis manusia. Kehormatan dan keselamatan nyatanya bisa berjalan beriringan.

Lain kali kamu melihat video serupa, kamu sudah punya bekal untuk tidak langsung percaya narasi dramatisnya. Pendekatan ini bisa jadi titik awal yang membantu kita menjadi konsumen informasi yang lebih cerdas dan kritis.

Referensi:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pewarna Alami dari Tumbuhan: Cara Mendapatkan Warna Pekat Tanpa Zat Kimia Tambahan

Halo, Sahabat Kreatif! Pernahkah kamu merasa bosan dengan warna-warna pabrikan yang itu-itu saja? Atau mungkin khawatir dengan kandungan kimia di dalamnya? Kalau iya, kamu datang ke tempat yang tepat! Sekarang ini, tren kembali ke alam lagi naik daun, termasuk dalam urusan warna. Pewarna alami dari tumbuhan bukan cuma soal warna yang cantik dan lembut, lho. Ini adalah cara kita untuk lebih ramah lingkungan, lebih sehat, dan pastinya lebih seru karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah! Lupakan pewarna sintetis yang kadang bikin alergi. Pewarna dari kebun kita sendiri ini aman, bahkan untuk si kecil, dan mudah terurai kembali ke tanah. Yuk, kita selami dunia magis pewarna alami dan cari tahu cara mendapatkan warna yang pekat dan tahan lama tanpa bahan kimia aneh-aneh! Kenapa Sih Harus Coba Pewarna Alami? Ini Alasannya! Sebelum kita masuk ke cara membuatnya, penting untuk tahu kenapa pewarna alami ini jadi pilihan yang cerdas: Lebih Sehat Untuk Kita: Pewarna alami bebas dari bahan kim...

7 Perbedaan Minyak Goreng Padat vs Cair: Rahasia Gorengan Renyah & Tetap Sehat!

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ayam goreng di restoran cepat saji bisa begitu renyah dan kering, sementara gorengan buatan rumah sering kali berminyak dan cepat lembek? Jawabannya bukan hanya pada tepung bumbu, tapi pada jenis minyak yang digunakan . Di dapur Indonesia, kita sering terjebak dilema: pilih minyak goreng cair yang biasa ada di warung, atau beralih ke minyak padat (frying shortening) yang jadi andalan koki profesional? Artikel ini akan mengupas tuntas 7 perbedaan krusial di antara keduanya agar Anda tidak salah pilih—baik demi rasa yang lezat maupun kesehatan keluarga. 1. Komposisi Lemak: Jantung vs. Tekstur Perbedaan paling mendasar ada pada kandungan kimianya. Jangan pusing dulu, ini penjelasannya secara sederhana: Minyak Cair (Sawit, Kanola, Jagung): Didominasi oleh lemak tak jenuh . Menurut  Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan , jenis lemak ini membantu mengontrol kolesterol jahat (LDL) jika digunakan dengan bijak. Minyak Padat (Shortening) : Dibuat mela...

7 Strategi Cerdas Orangtua di Era AI: Ubah Anak dari Konsumen Pasif Jadi Kreator Kritis

Pernahkah Anda melihat pemandangan ini di rumah? Si Kecil sedang mengerjakan PR, tapi di sebelahnya ada tablet yang menyala. Alih-alih berpikir, ia bertanya pada asisten suara, "Oke Google, apa jawaban nomor 5?" Setelah itu, algoritma menyodorkan video rekomendasi, dan voila , 30 menit berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan. Ayah dan Bunda tidak sendirian. Di era kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) ini, batas antara belajar dan menjadi "konsumen pasif" semakin tipis. Kita tidak bisa menolak teknologi, tapi membiarkan anak diasuh oleh algoritma juga bukan pilihan bijak. Berdasarkan pandangan para pakar psikologi anak dan tren digital parenting terkini, berikut adalah 7 strategi praktis agar anak kita tidak hanya jadi penonton, tapi tumbuh menjadi pemikir yang kritis dan mandiri. Mengapa Kita Harus Peduli Sekarang? AI memang canggih untuk membantu belajar, tapi Dr. Sophie Pierce, seorang psikolog anak, mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan emp...