Pernah nggak, kamu lagi asyik nongkrong bareng teman, terus tiba-tiba suasana jadi panas cuma gara-gara debat soal bubur ayam? Satu pihak ngotot bubur harus diaduk biar bumbunya merata, sementara pihak lain merasa jijik dan bilang bubur jadi mirip makanan bayi.
Debat klasik ini nggak ada habisnya. Sama seperti perdebatan antara tim kopi hitam pahit versus tim kopi susu gula aren, atau antara pencinta film horor dan pencinta drama romantis.
Sering kali, kita terjebak dalam pemikiran kalau pilihan kita adalah yang paling "benar", sementara pilihan orang lain itu "aneh" atau "salah". Padahal, kalau kita bedah lebih dalam, semua ini bukan soal benar atau salah, lho. Ini murni soal kenyamanan.
Yuk, kita coba pahami kenapa selera dan preferensi itu sangat pribadi dan kenapa kita harus berhenti menghakiminya.
Kenapa Seleramu Bisa Beda Jauh dengan Orang Lain?
Setiap pilihan yang kita buat—mulai dari makanan favorit, genre musik, sampai cara kita menghabiskan akhir pekan—adalah cerminan dari diri kita yang paling dalam. Preferensi ini nggak muncul dari ruang hampa. Menurut para ahli psikologi, ada beberapa faktor yang membentuknya:
- Pengalaman Masa Lalu: Seseorang yang tumbuh besar di pesisir pantai mungkin merasa sangat nyaman dengan hidangan laut. Sebaliknya, orang yang punya pengalaman buruk (misalnya, tersedak duri ikan) bisa jadi benci ikan seumur hidupnya. Kenangan dan asosiasi emosional dari masa lalu sangat kuat membentuk apa yang kita suka dan tidak suka.
- Lingkungan dan Budaya: Kamu terbiasa makan nasi tiga kali sehari? Itu karena lingkungan kita membentuk kebiasaan itu. Seorang teman dari Eropa mungkin merasa aneh dan menganggap sarapan roti dan keju adalah yang paling "normal". Ini bukan karena nasi lebih baik dari roti, tapi karena kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil.
- Kebutuhan Emosional dan Psikologis: Ada orang yang memilih tinggal di kota besar yang ramai karena butuh energi dan dinamika sosial. Sebaliknya, ada yang memilih ketenangan desa untuk mengisi ulang "baterai" sosialnya. Pilihan ini didasari oleh kebutuhan jiwa yang berbeda-beda. Teori psikolog bahkan menyebutkan bahwa kita memilih sesuatu berdasarkan kombinasi antara kesenangan (rasa nikmat), manfaat (kegunaan), dan cerminan identitas diri.
Intinya, seleramu adalah hasil dari perjalanan hidupmu yang unik. Begitu pula dengan selera orang lain.
Dari Makanan Sampai Hobi: Saat Selera Dianggap "Salah"
Salah paham terbesar terjadi ketika kita mulai menempelkan label moral "benar" atau "salah" pada selera. Coba perhatikan contoh sehari-hari ini:
- Soal Makanan: Seorang vegetarian mungkin menganggap makan daging itu kejam. Tapi bagi seorang omnivora, makan steak adalah soal pemenuhan gizi atau sekadar kenikmatan rasa. Keduanya tidak salah, hanya punya landasan nilai dan kenyamanan yang berbeda.
- Soal Gaya Hidup: Ada yang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk tas branded karena itu memberinya rasa percaya diri dan kepuasan. Orang lain mungkin melihatnya sebagai "pemborosan" dan lebih memilih menginvestasikan uangnya untuk traveling. Siapa yang benar? Keduanya, sesuai dengan prioritas masing-masing.
- Soal Waktu Luang: Seorang gamer yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sering dicap "malas" atau "buang-buang waktu". Padahal, bagi si gamer, aktivitas itu bisa jadi cara melepas stres, mengasah strategi, dan bahkan bersosialisasi dengan komunitas global.
Ketika kita menghakimi, kita sebenarnya sedang memaksakan kacamata kita untuk dipakai orang lain. Padahal, dunia ini terlalu kaya untuk dilihat dari satu sudut pandang saja.
Bahagia Itu Sederhana: Manfaat Saling Menghargai Perbedaan
Coba bayangkan betapa damainya hidup kalau kita bisa menerima bahwa selera orang lain, ya, sekadar selera. Bukan ancaman. Manfaatnya besar, lho:
- Hubungan Jadi Lebih Adem: Nggak ada lagi drama kecil-kecilan soal "kok kamu suka musik aneh gitu?" atau "ih, kenapa liburannya ke gunung, kan enak ke pantai?" Hubungan jadi lebih tulus karena didasari penerimaan.
- Empati Semakin Terasah: Dengan mencoba memahami kenapa temanmu nyaman dengan pilihannya, kamu belajar melihat dunia dari perspektifnya. Ini adalah inti dari empati yang membuat hubungan lebih dalam.
- Kamu dan Orang Lain Merasa Merdeka: Kamu bebas menyukai apa pun tanpa takut dihakimi, dan kamu pun memberikan kebebasan yang sama untuk orang lain.
Sebaliknya, memaksakan selera hanya akan menciptakan konflik, membuat orang lain merasa tidak nyaman, dan membatasi kreativitas.
Biar Nggak Gampang Julid: 5 Tips Cerdas Menghadapi Perbedaan Selera
Oke, sekarang bagaimana cara praktisnya?
- Coba Kepo dengan Niat Baik, Bukan Menghakimi: Alih-alih bilang, "Aneh banget seleramu," coba ganti dengan "Wah, menarik. Apa yang bikin kamu suka sama hal itu?" Pertanyaan ini membuka diskusi, bukan penghakiman.
- Buang Jauh-Jauh Kata "Harusnya": Hindari kalimat seperti, "Harusnya kamu coba ini, lebih enak!" Ganti dengan, "Kalau aku sih suka ini. Tapi penasaran, seleramu gimana?"
- Fokus pada Persamaan, Bukan Perbedaan: Mungkin kamu dan temanmu beda selera musik, tapi sama-sama suka nonton film komedi. Fokus pada hal yang bisa dinikmati bersama.
- Ingat, Ini Bukan Kompetisi: Selera bukan ajang untuk membuktikan siapa yang lebih keren atau lebih baik. Santai saja.
- Tanya pada Diri Sendiri: Sebelum berkomentar negatif, coba berhenti sejenak dan bertanya, "Kenapa aku merasa terganggu dengan pilihan dia? Apakah ini benar-benar masalah, atau hanya karena berbeda dari standarku?"
Penutup
Jadi, kembali ke soal bubur diaduk atau tidak. Jawabannya adalah: tidak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah cara mana yang membuatmu paling nyaman saat menikmatinya.
Preferensi adalah lukisan unik dari perjalanan hidup setiap orang. Ketika kita berhenti menghakimi dan mulai menghargai, kita tidak hanya membuat hidup orang lain lebih ringan, tapi juga membuat hidup kita sendiri lebih damai dan berwarna.
Gimana menurutmu? Punya pengalaman seru atau menyebalkan soal perbedaan selera? Yuk, cerita di kolom komentar!
Sumber:
- https://repo.stie-pembangunan.ac.id/1057/1/17612201.pdf
- https://en.wikipedia.org/wiki/Expectancy-value_theory
- https://repository.radenintan.ac.id/1115/3/BAB-II.pdf
Yuk, Ciptakan Kenyamanan Bersama!
Setelah memahami bahwa selera itu soal kenyamanan, bukan benar atau salah, sekarang saatnya ciptakan kenyamanmu sendiri! Butuh barang-barang yang bikin hidup lebih santai dan sesuai preferensimu?
Temukan semua kebutuhan unikmu di Shopee! Dari peralatan dapur untuk tim bubur diaduk atau tidak diaduk, gadget hiburan untuk tim gamer atau pencinta film, sampai fashion item yang bikin kamu makin percaya diri.
Klik di sini untuk belanja sekarang dan nikmati diskon spesial! Jangan biarkan perbedaan menghalangimu mendapatkan apa yang kamu suka. Karena di Shopee, semua selera itu valid dan layak dimanjakan!


.png)
Komentar
Posting Komentar