Langsung ke konten utama

Tim Bubur Diaduk vs. Tidak Diaduk: Kenapa Selera Itu Soal Nyaman, Bukan Benar atau Salah

https://unsplash.com/photos/a-couple-of-cars-parked-next-to-each-other-in-a-parking-lot-97lpzitEPj4

Pernah nggak, kamu lagi asyik nongkrong bareng teman, terus tiba-tiba suasana jadi panas cuma gara-gara debat soal bubur ayam? Satu pihak ngotot bubur harus diaduk biar bumbunya merata, sementara pihak lain merasa jijik dan bilang bubur jadi mirip makanan bayi.

Debat klasik ini nggak ada habisnya. Sama seperti perdebatan antara tim kopi hitam pahit versus tim kopi susu gula aren, atau antara pencinta film horor dan pencinta drama romantis.

Sering kali, kita terjebak dalam pemikiran kalau pilihan kita adalah yang paling "benar", sementara pilihan orang lain itu "aneh" atau "salah". Padahal, kalau kita bedah lebih dalam, semua ini bukan soal benar atau salah, lho. Ini murni soal kenyamanan.

Yuk, kita coba pahami kenapa selera dan preferensi itu sangat pribadi dan kenapa kita harus berhenti menghakiminya.

Kenapa Seleramu Bisa Beda Jauh dengan Orang Lain?

Setiap pilihan yang kita buat—mulai dari makanan favorit, genre musik, sampai cara kita menghabiskan akhir pekan—adalah cerminan dari diri kita yang paling dalam. Preferensi ini nggak muncul dari ruang hampa. Menurut para ahli psikologi, ada beberapa faktor yang membentuknya:

  1. Pengalaman Masa Lalu: Seseorang yang tumbuh besar di pesisir pantai mungkin merasa sangat nyaman dengan hidangan laut. Sebaliknya, orang yang punya pengalaman buruk (misalnya, tersedak duri ikan) bisa jadi benci ikan seumur hidupnya. Kenangan dan asosiasi emosional dari masa lalu sangat kuat membentuk apa yang kita suka dan tidak suka.
  2. Lingkungan dan Budaya: Kamu terbiasa makan nasi tiga kali sehari? Itu karena lingkungan kita membentuk kebiasaan itu. Seorang teman dari Eropa mungkin merasa aneh dan menganggap sarapan roti dan keju adalah yang paling "normal". Ini bukan karena nasi lebih baik dari roti, tapi karena kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil.
  3. Kebutuhan Emosional dan Psikologis: Ada orang yang memilih tinggal di kota besar yang ramai karena butuh energi dan dinamika sosial. Sebaliknya, ada yang memilih ketenangan desa untuk mengisi ulang "baterai" sosialnya. Pilihan ini didasari oleh kebutuhan jiwa yang berbeda-beda. Teori psikolog bahkan menyebutkan bahwa kita memilih sesuatu berdasarkan kombinasi antara kesenangan (rasa nikmat), manfaat (kegunaan), dan cerminan identitas diri.

Intinya, seleramu adalah hasil dari perjalanan hidupmu yang unik. Begitu pula dengan selera orang lain.

Dari Makanan Sampai Hobi: Saat Selera Dianggap "Salah"

Salah paham terbesar terjadi ketika kita mulai menempelkan label moral "benar" atau "salah" pada selera. Coba perhatikan contoh sehari-hari ini:

  • Soal Makanan: Seorang vegetarian mungkin menganggap makan daging itu kejam. Tapi bagi seorang omnivora, makan steak adalah soal pemenuhan gizi atau sekadar kenikmatan rasa. Keduanya tidak salah, hanya punya landasan nilai dan kenyamanan yang berbeda.
  • Soal Gaya Hidup: Ada yang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk tas branded karena itu memberinya rasa percaya diri dan kepuasan. Orang lain mungkin melihatnya sebagai "pemborosan" dan lebih memilih menginvestasikan uangnya untuk traveling. Siapa yang benar? Keduanya, sesuai dengan prioritas masing-masing.
  • Soal Waktu Luang: Seorang gamer yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sering dicap "malas" atau "buang-buang waktu". Padahal, bagi si gamer, aktivitas itu bisa jadi cara melepas stres, mengasah strategi, dan bahkan bersosialisasi dengan komunitas global.

Ketika kita menghakimi, kita sebenarnya sedang memaksakan kacamata kita untuk dipakai orang lain. Padahal, dunia ini terlalu kaya untuk dilihat dari satu sudut pandang saja.

Bahagia Itu Sederhana: Manfaat Saling Menghargai Perbedaan

Coba bayangkan betapa damainya hidup kalau kita bisa menerima bahwa selera orang lain, ya, sekadar selera. Bukan ancaman. Manfaatnya besar, lho:

  • Hubungan Jadi Lebih Adem: Nggak ada lagi drama kecil-kecilan soal "kok kamu suka musik aneh gitu?" atau "ih, kenapa liburannya ke gunung, kan enak ke pantai?" Hubungan jadi lebih tulus karena didasari penerimaan.
  • Empati Semakin Terasah: Dengan mencoba memahami kenapa temanmu nyaman dengan pilihannya, kamu belajar melihat dunia dari perspektifnya. Ini adalah inti dari empati yang membuat hubungan lebih dalam.
  • Kamu dan Orang Lain Merasa Merdeka: Kamu bebas menyukai apa pun tanpa takut dihakimi, dan kamu pun memberikan kebebasan yang sama untuk orang lain.

Sebaliknya, memaksakan selera hanya akan menciptakan konflik, membuat orang lain merasa tidak nyaman, dan membatasi kreativitas.

Biar Nggak Gampang Julid: 5 Tips Cerdas Menghadapi Perbedaan Selera

Oke, sekarang bagaimana cara praktisnya?

  1. Coba Kepo dengan Niat Baik, Bukan Menghakimi: Alih-alih bilang, "Aneh banget seleramu," coba ganti dengan "Wah, menarik. Apa yang bikin kamu suka sama hal itu?" Pertanyaan ini membuka diskusi, bukan penghakiman.
  2. Buang Jauh-Jauh Kata "Harusnya": Hindari kalimat seperti, "Harusnya kamu coba ini, lebih enak!" Ganti dengan, "Kalau aku sih suka ini. Tapi penasaran, seleramu gimana?"
  3. Fokus pada Persamaan, Bukan Perbedaan: Mungkin kamu dan temanmu beda selera musik, tapi sama-sama suka nonton film komedi. Fokus pada hal yang bisa dinikmati bersama.
  4. Ingat, Ini Bukan Kompetisi: Selera bukan ajang untuk membuktikan siapa yang lebih keren atau lebih baik. Santai saja.
  5. Tanya pada Diri Sendiri: Sebelum berkomentar negatif, coba berhenti sejenak dan bertanya, "Kenapa aku merasa terganggu dengan pilihan dia? Apakah ini benar-benar masalah, atau hanya karena berbeda dari standarku?"

Penutup

Jadi, kembali ke soal bubur diaduk atau tidak. Jawabannya adalah: tidak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah cara mana yang membuatmu paling nyaman saat menikmatinya.

Preferensi adalah lukisan unik dari perjalanan hidup setiap orang. Ketika kita berhenti menghakimi dan mulai menghargai, kita tidak hanya membuat hidup orang lain lebih ringan, tapi juga membuat hidup kita sendiri lebih damai dan berwarna.

Gimana menurutmu? Punya pengalaman seru atau menyebalkan soal perbedaan selera? Yuk, cerita di kolom komentar!

Sumber:

Setelah memahami bahwa selera itu soal kenyamanan, bukan benar atau salah, sekarang saatnya ciptakan kenyamanmu sendiri! Butuh barang-barang yang bikin hidup lebih santai dan sesuai preferensimu?

Temukan semua kebutuhan unikmu di Shopee! Dari peralatan dapur untuk tim bubur diaduk atau tidak diaduk, gadget hiburan untuk tim gamer atau pencinta film, sampai fashion item yang bikin kamu makin percaya diri.

Klik di sini untuk belanja sekarang dan nikmati diskon spesial! Jangan biarkan perbedaan menghalangimu mendapatkan apa yang kamu suka. Karena di Shopee, semua selera itu valid dan layak dimanjakan!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pewarna Alami dari Tumbuhan: Cara Mendapatkan Warna Pekat Tanpa Zat Kimia Tambahan

Halo, Sahabat Kreatif! Pernahkah kamu merasa bosan dengan warna-warna pabrikan yang itu-itu saja? Atau mungkin khawatir dengan kandungan kimia di dalamnya? Kalau iya, kamu datang ke tempat yang tepat! Sekarang ini, tren kembali ke alam lagi naik daun, termasuk dalam urusan warna. Pewarna alami dari tumbuhan bukan cuma soal warna yang cantik dan lembut, lho. Ini adalah cara kita untuk lebih ramah lingkungan, lebih sehat, dan pastinya lebih seru karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah! Lupakan pewarna sintetis yang kadang bikin alergi. Pewarna dari kebun kita sendiri ini aman, bahkan untuk si kecil, dan mudah terurai kembali ke tanah. Yuk, kita selami dunia magis pewarna alami dan cari tahu cara mendapatkan warna yang pekat dan tahan lama tanpa bahan kimia aneh-aneh! Kenapa Sih Harus Coba Pewarna Alami? Ini Alasannya! Sebelum kita masuk ke cara membuatnya, penting untuk tahu kenapa pewarna alami ini jadi pilihan yang cerdas: Lebih Sehat Untuk Kita: Pewarna alami bebas dari bahan kim...

7 Perbedaan Minyak Goreng Padat vs Cair: Rahasia Gorengan Renyah & Tetap Sehat!

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ayam goreng di restoran cepat saji bisa begitu renyah dan kering, sementara gorengan buatan rumah sering kali berminyak dan cepat lembek? Jawabannya bukan hanya pada tepung bumbu, tapi pada jenis minyak yang digunakan . Di dapur Indonesia, kita sering terjebak dilema: pilih minyak goreng cair yang biasa ada di warung, atau beralih ke minyak padat (frying shortening) yang jadi andalan koki profesional? Artikel ini akan mengupas tuntas 7 perbedaan krusial di antara keduanya agar Anda tidak salah pilih—baik demi rasa yang lezat maupun kesehatan keluarga. 1. Komposisi Lemak: Jantung vs. Tekstur Perbedaan paling mendasar ada pada kandungan kimianya. Jangan pusing dulu, ini penjelasannya secara sederhana: Minyak Cair (Sawit, Kanola, Jagung): Didominasi oleh lemak tak jenuh . Menurut  Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan , jenis lemak ini membantu mengontrol kolesterol jahat (LDL) jika digunakan dengan bijak. Minyak Padat (Shortening) : Dibuat mela...

7 Strategi Cerdas Orangtua di Era AI: Ubah Anak dari Konsumen Pasif Jadi Kreator Kritis

Pernahkah Anda melihat pemandangan ini di rumah? Si Kecil sedang mengerjakan PR, tapi di sebelahnya ada tablet yang menyala. Alih-alih berpikir, ia bertanya pada asisten suara, "Oke Google, apa jawaban nomor 5?" Setelah itu, algoritma menyodorkan video rekomendasi, dan voila , 30 menit berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan. Ayah dan Bunda tidak sendirian. Di era kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) ini, batas antara belajar dan menjadi "konsumen pasif" semakin tipis. Kita tidak bisa menolak teknologi, tapi membiarkan anak diasuh oleh algoritma juga bukan pilihan bijak. Berdasarkan pandangan para pakar psikologi anak dan tren digital parenting terkini, berikut adalah 7 strategi praktis agar anak kita tidak hanya jadi penonton, tapi tumbuh menjadi pemikir yang kritis dan mandiri. Mengapa Kita Harus Peduli Sekarang? AI memang canggih untuk membantu belajar, tapi Dr. Sophie Pierce, seorang psikolog anak, mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan emp...